7 Des 2025

Benarkah Self-Centered Selalu Buruk? Memahami Sisi Lainnya

Create by : @Tim Content Writer PagarRaya’13

    Kata self-centered sering dianggap negatif. Banyak orang membayangkannya sebagai pribadi yang egois, hanya peduli pada diri sendiri, dan tidak mau mendengar orang lain. Padahal, tidak semua sifat self-centered itu buruk. Dalam kondisi tertentu, fokus pada diri sendiri justru bisa menjadi bentuk perlindungan, pertahanan, bahkan mekanisme bertahan hidup.

Apa Itu Self-Centered Sebenarnya? 

Self-centered berarti seseorang lebih memusatkan perhatian pada kebutuhan, pikiran, dan perasaannya sendiri dibandingkan orang lain. Namun, ini berbeda dengan narsisme. Self-centered tidak selalu memiliki unsur manipulatif, sering kali seseorang menjadi demikian karena:

  • masa kecil yang kurang aman,

  • pengalaman tidak didengar,

  • trauma sosial, dan 

  • kebiasaan menjaga diri dan terluka.


Artinya, tidak semua orang yang tampak
self-centered melakukannya karena ego yang tinggi, sehingga banyak yang melakukannya karena rasa takut.


Kenapa Self-Centered Tidak Selalu Buruk?

1. Bentuk Perlindungan Diri (Self-Protection)

Kadang seseorang terlihat self-centered karena sebenarnya sedang melindungi diri dari kekecewaan atau eksploitasi.

Contoh : seseorang yang selalu mengutamakan diri mungkin pernah dimanfaatkan atau dicueki. Fokus pada diri membuat mereka merasa aman.


2. Cara Menjaga Batas Diri (Boundaries)

Banyak orang bingung membedakan “self-centered” dengan “punya boundaries.” Padahal :

    • memilih diri sendiri,
    • bilang dengan kata 'tidak',
    • dan menjaga waktu pribadi.

Tidak selalu egois. Itu ciri orang yang tahu kapasitas diri.


3. Mengurangi Kecenderungan People-Pleasing

Orang yang terlalu berfokus pada orang lain (people-pleaser) akan cepat kelelahan. Sedikit self-centered membantu :

    • lebih jujur pada kebutuhan pribadi,
    • tidak selalu mengorbankan diri,
    • mengurangi tekanan sosial.

Kadang, memilih diri adalah bentuk perawatan mental.


4. Memprioritaskan Kesehatan Mental

Fokus pada diri sendiri bisa membantu seseorang mengenali emosi, kebutuhan, dan kondisi mentalnya. Kadang, tarik diri dan fokus pada diri dulu adalah langkah penyembuhan.


Kapan Self-Centered Menjadi Masalah?

Tidak semua sisi self-centered itu positif. Ada batas dimana perilaku ini bisa menyakiti hubungan sosial, yaitu ketika seseorang:

    • sulit mengakui kesalahan,
    • selalu merasa dirinya paling benar
    • tidak mampu mendengarkan orang lain,
    • mengharapkan dunia berputar sesuai keinginannya,
    • menjadikan hubungan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhannya.

Kalau sudah sampai tahap ini, perilaku self-centered bisa melelahkan orang sekitar dan menciptakan konflik.


Perbedaan Self-Centered vs Self-Preservation

Bedanya terletak pada niat dan dampaknya.



Jadi, Wajar Gak Kalau Kadang Kita Self-Centered?

Sangat wajar, tidak ada manusia yang 100% altruistik atau 100% egois. Kita berada di antara spektrum itu. Terkadang kita memilih diri sendiri. Terkadang kita ingin didengar. Terkadang kita lelah memberi dan hanya ingin menerima. Itu manusiawi. Yang penting adalah keseimbangan: fokus pada diri tanpa menghapus empati pada orang lain.



Kesimpulan

Menjadi self-centered dalam arti yang sehat bukan berarti egois atau hanya memikirkan diri sendiri. Sebaliknya, ini adalah bentuk ketegasan pribadi, batasan yang jelas, dan kemampuan menghargai diri tanpa harus merugikan orang lain. Ketika seseorang memberi prioritas pada kebutuhan emosional, mental, dan fisiknya, ia menjadi lebih stabil, lebih tenang, dan dapat memberi kebaikan secara lebih tulus kepada lingkungan sekitar.

Self-centered yang sehat membantu kita:

  • menghargai kapasitas diri, 
  • menghindari burnout,
  • mengurangi ketergantungan emosional,
  • mengambil keputusan yang lebih otentik,
  • membangun hubungan yang lebih dewasa.

Dengan kata lain, fokus pada diri sendiri bukanlah kesalahan, selama dilakukan dengan kesadaran diri dan empati.


Pada akhirnya, hidup ini kembali kepada pilihan dan keseimbangan. Kamu berhak untuk menempatkan dirimu sebagai pusat dalam hidupmu sendiri, tanpa rasa bersalah, tanpa beban, dan tanpa perlu validasi apapun

Sumber :

(1) Pentingnya Kesehatan Mental dan Cara Menjaganya

https://hellosehat.com/mental/kesehatan-mental/


Penulis : Mia Kultsum Safitri



#SelfCentered 
#FokusPadaDiriSendiri
#WajarSelfCentered
#DivisiContentWriterBatch13
#PemudaGatraAryaguna
#PagarRayaBatch'13
#PagarRaya 
#Pagaria

Add Comments


EmoticonEmoticon