|
Halo Pagaria!
Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu benar-benar mendengarkan curhatan teman tanpa sesekali melirik notifikasi ponsel? atau, pernahkah kamu melihat sebuah tragedi di media sosial dan merasa "biasa saja" karena sudah terlalu sering melihat konten serupa?
FYI nih, Pagaria, itulah salah satu sisi gelap dari kehidupan digital kita. Dibalik kemudahan koneksi, ada empati yang perlahan terkikis. Sebuah fenomena di mana kita lebih peduli pada angle foto yang estetik daripada perasaan orang disekitar kita.
Di era ini, batasan antara kepedulian dan eksploitasi menjadi sangat tipis. Kita sering melihat:
Kecelakaan atau musibah yang justru direkam terlebih dahulu demi "konten pertama" daripada ditolong.
Komentar jahat (cyber bullying) yang diketik dengan jari ringan, seolah-olah orang di balik akun tersebut tidak memiliki perasaan.
Fenomena cancel culture yang sering kali menghakimi seseorang tanpa memberi ruang untuk penjelasan atau perbaikan diri.
Media sosial telah mengubah wajah empati. Kita menjadi generasi yang "pintar" menyuarakan isu besar di dunia maya melalui repost story, tapi terkadang "gagap" memberikan simpati pada orang yang duduk tepat di depan meja kita.
Benarkah Gen Z Kehilangan Hati?
Label "individualis" dan "egois" sering disematkan pada Gen-Z. Kita dianggap lebih mencintai diri sendiri (self-love) hingga terkadang lupa bahwa manusia adalah makhluk sosial yang butuh koneksi emosional mendalam.
Namun, benarkah begitu? Faktanya, Gen-Z tumbuh di bawah tekanan algoritma yang menuntut kita untuk selalu fokus pada diri sendiri: personal branding, pencapaian pribadi, dan gaya hidup.
Masalahnya, layar ponsel menciptakan jarak emosional. Saat kita berinteraksi lewat teks atau video, kita kehilangan sinyal-sinyal manusiawi seperti nada suara, tatapan mata, dan bahasa tubuh. Inilah yang membuat empati kita sering kali tidak terasah secara alami.
Media sosial kini menjadi "etalase" kehidupan. Di situlah kita terkadang terjebak dalam rasa iri dan kompetisi, bukan kolaborasi.
Melihat kesuksesan orang lain membuat kita merasa terancam, sehingga sulit untuk ikut merasa bahagia (schadenfreude).
Kita lebih sibuk mencari likes daripada mencari tahu apakah teman kita benar-benar baik-baik saja di balik postingan senyumnya.
Eksistensi diri diukur dari seberapa banyak orang yang memperhatikan kita, bukan seberapa banyak kita memperhatikan orang lain.
Jadi, Pagaria, menjadi aware pada diri sendiri itu penting, tapi jangan sampai menutup pintu hati untuk orang lain. Empati bukan sekadar memberi emoji "sedih" di kolom komentar, melainkan hadir secara utuh saat dibutuhkan.
Kini mulai muncul gerakan Human-to-Human Connection sebagai pengingat bahwa di balik setiap akun, ada manusia yang memiliki luka dan rasa. Tantangan terbesarnya bukan bagaimana menjadi yang paling menonjol di media sosial, melainkan bagaimana tetap menjadi manusia yang hangat di tengah dunia yang semakin dingin secara digital.
Technology is a great servant but a terrible master. Don’t let your screen dim the light of your empathy.
(1) Psychology Today (2025). The Empathy Gap in the Digital Age.
(2) Social Media Ethics Report (2024). Desensitization and Gen Z Behavior.
(3) Digital Wellness Collective. Reconnecting in a Disconnected World.
#DigitalDesensitization
#HumanConnection