18 Jan 2026

Retak dalam Layar: Mengapa Gen Z Sulit "Merasakan" di Dunia Nyata?

Retak dalam Layar: Mengapa Gen Z Sulit "Merasakan" di Dunia Nyata?

Create by : @Tim Content Writer PagarRaya’13

Halo Pagaria!

Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu benar-benar mendengarkan curhatan teman tanpa sesekali melirik notifikasi ponsel? atau, pernahkah kamu melihat sebuah tragedi di media sosial dan merasa "biasa saja" karena sudah terlalu sering melihat konten serupa?

FYI nih, Pagaria, itulah salah satu sisi gelap dari kehidupan digital kita. Dibalik kemudahan koneksi, ada empati yang perlahan terkikis. Sebuah fenomena di mana kita lebih peduli pada angle foto yang estetik daripada perasaan orang disekitar kita.


Digital Desensitization : Ketika Tragedi Menjadi Sekadar Konten

Di era ini, batasan antara kepedulian dan eksploitasi menjadi sangat tipis. Kita sering melihat:

  1. Kecelakaan atau musibah yang justru direkam terlebih dahulu demi "konten pertama" daripada ditolong.

  2. Komentar jahat (cyber bullying) yang diketik dengan jari ringan, seolah-olah orang di balik akun tersebut tidak memiliki perasaan.

  3. Fenomena cancel culture yang sering kali menghakimi seseorang tanpa memberi ruang untuk penjelasan atau perbaikan diri.

Media sosial telah mengubah wajah empati. Kita menjadi generasi yang "pintar" menyuarakan isu besar di dunia maya melalui repost story, tapi terkadang "gagap" memberikan simpati pada orang yang duduk tepat di depan meja kita.


Benarkah Gen Z Kehilangan Hati?

Label "individualis" dan "egois" sering disematkan pada Gen-Z. Kita dianggap lebih mencintai diri sendiri (self-love) hingga terkadang lupa bahwa manusia adalah makhluk sosial yang butuh koneksi emosional mendalam.

Namun, benarkah begitu? Faktanya, Gen-Z tumbuh di bawah tekanan algoritma yang menuntut kita untuk selalu fokus pada diri sendiri: personal branding, pencapaian pribadi, dan gaya hidup.

Masalahnya, layar ponsel menciptakan jarak emosional. Saat kita berinteraksi lewat teks atau video, kita kehilangan sinyal-sinyal manusiawi seperti nada suara, tatapan mata, dan bahasa tubuh. Inilah yang membuat empati kita sering kali tidak terasah secara alami.


Ketika Validasi Mengalahkan Koneksi

Media sosial kini menjadi "etalase" kehidupan. Di situlah kita terkadang terjebak dalam rasa iri dan kompetisi, bukan kolaborasi.

  1. Melihat kesuksesan orang lain membuat kita merasa terancam, sehingga sulit untuk ikut merasa bahagia (schadenfreude).

  2. Kita lebih sibuk mencari likes daripada mencari tahu apakah teman kita benar-benar baik-baik saja di balik postingan senyumnya.

  3. Eksistensi diri diukur dari seberapa banyak orang yang memperhatikan kita, bukan seberapa banyak kita memperhatikan orang lain.

Kesimpulan :

Jadi, Pagaria, menjadi aware pada diri sendiri itu penting, tapi jangan sampai menutup pintu hati untuk orang lain. Empati bukan sekadar memberi emoji "sedih" di kolom komentar, melainkan hadir secara utuh saat dibutuhkan.


Kini mulai muncul gerakan Human-to-Human Connection sebagai pengingat bahwa di balik setiap akun, ada manusia yang memiliki luka dan rasa. Tantangan terbesarnya bukan bagaimana menjadi yang paling menonjol di media sosial, melainkan bagaimana tetap menjadi manusia yang hangat di tengah dunia yang semakin dingin secara digital.

Technology is a great servant but a terrible master. Don’t let your screen dim the light of your empathy.


Sumber :

(1) Psychology Today (2025). The Empathy Gap in the Digital Age.

(2) Social Media Ethics Report (2024). Desensitization and Gen Z Behavior.

(3) Digital Wellness Collective. Reconnecting in a Disconnected World.


Penulis : Septian Hadi

#SocialAwareness
#GenZEmpathy
#DigitalDesensitization
#HumanConnection 
#DayByDay
#DivisiContentWriterBatch13
#PemudaGatraAryaguna
#PagarRayaBatch'13
#PagarRaya 
#Pagaria

11 Jan 2026

Self-Awareness: Mengenali Diri dalam Perspektif Psikologi

Self-Awareness: Mengenali Diri dalam Perspektif Psikologi


Create by : @Tim Content Writer PagarRaya’13


Halo, Pagaria!

Seiring dengan meningkatnya tren pengembangan diri di masyarakat, istilah self-awareness (kesadaran diri) semakin populer akhir-akhir ini. Namun, apakah kita benar-benar memahami apa itu self-awareness, dan mengapa hal tersebut penting dalam kehidupan kita? Artikel ini akan mengajakmu menyelami konsep self-awareness dari sudut pandang psikologi, serta bagaimana cara membangunnya.


Apa Itu Self-Awareness?

Secara sederhana, self-awareness berarti mengenali diri sendiri, yaitu menyadari proses psikologis dalam diri kita, sekaligus bagaimana kita berinteraksi dengan dunia luar. Konsep ini berkaitan dengan istilah-istilah lain seperti self-knowledge, self-image, self-identity, dan sebagainya.

Menurut penelitian (Carden et al., 2021 dan London et al., 2023), self-awareness memiliki dua dimensi utama:

  • Internal self-awareness, berkaitan dengan hal dalam diri seperti kepribadian, nilai, kebiasaan, proses pikir dan emosi.
  • External self-awareness, berkaitan dengan bagaimana kita tampil, berperilaku, dan berinteraksi dengan orang lain/lingkungan sekitar.


Mengapa Self-Awareness Penting?

Self-awareness bukan hanya sekedar “tahu diri”, melainkan alat penting dalam berbagai aspek kehidupan.

  • Pengembangan Diri & Belajar
Dengan mengenali nilai, kelebihan, kelemahan, dan preferensi diri, kita bisa membimbing diri untuk berkembang kearah yang selaras dengan diri kita.

  • Pengambilan Keputusan
Self-awareness membantu kita menentukan pilihan, misalnya memilih jurusan, karier, atau hubungan, berdasarkan pengetahuan mendalam tentang diri sendiri, bukan sekadar dorongan sesaat.

  • Hubungan Sosial

Dengan sadar akan cara kita berinteraksi, perasaan dan reaksi kita, kita bisa berkomunikasi dan bersikap lebih baik terhadap orang lain. Hal ini memperkuat kualitas relasi.

  • Kesehatan Mental

Memahami diri sendiri, pikiran, emosi, reaksi, dan membantu menjaga keseimbangan batin, dan bisa menjadi fondasi bagi kesejahteraan psikologis.


Bagaimana Self-Awareness Dapat Berkembang?

Self-awareness bukan sesuatu yang instan; ia berkembang melalui proses berkelanjutan.

Menurut penelitian (misalnya London et al., 2025), ada beberapa proses yang mendukung perkembangan self-awareness :

  • Reflection (Refleksi diri)

Secara sadar memperhatikan pikiran, perasaan, dan pengalaman diri sendiri.

  • Metacognition (Metakognisi)

Kemampuan menyadari dan menganalisis cara berpikir kita sendiri.

  • Mindfulness (Kesadaran penuh saat ini)

Memperhatikan apa yang kita rasakan dan alami di momen sekarang, tanpa penilaian berlebihan.


Sebaliknya,

  • Rumination

Yaitu overthinking yang berlebihan, terutama dipicu rasa stres, takut, atau atau trauma, justru dapat menghambat manfaat self-awareness dan berdampak negatif.


Cara Praktis Meningkatkan Self-Awareness

Berikut beberapa cara sederhana yang bisa kamu terapkan untuk melatih dan meningkatkan self-awareness :

  • Jurnal harian, menulis pikiran, perasaan, pengalaman, dan reaksi kamu secara rutin.
  • Refleksi rutin, mengambil waktu untuk merenung: apa yang kamu rasakan, mengapa, dan bagaimana pengaruhnya terhadap diri dan orang lain.
  • Tes kepribadian/konsultasi psikologi, untuk memperoleh insight tentang gaya kepribadian, kekuatan & kelemahan, dan pola pikir.
  • Minta feedback dari orang terdekat, kadang orang lain bisa melihat hal dalam dirimu yang kamu sendiri tidak sadari.
  • Latihan mindfulness, seperti meditasi, pernapasan, atau hanya menyadari perasaan disaat sekarang tanpa penilaian.


Kesimpulan :

Self-awareness adalah keterampilan penting yang membuka jalan bagi pengembangan diri, hubungan sosial yang sehat, keseimbangan mental, dan keputusan hidup yang lebih bijaksana. Prosesnya memerlukan kesadaran, komitmen, dan latihan terus-menerus, tetapi hasilnya bisa sangat membentuk kualitas hidup kita.
Kalau kamu tertarik, kamu bisa mulai dari hal kecil, tulis jurnal, refleksi harian, atau minta feedback dari teman/keluarga. Siapa tahu perubahan besar dimulai dari langkah sederhana.
        Pada akhirnya, mengenal diri bukanlah perjalanan yang selesai dalam satu langkah. Self-awareness adalah proses seumur hidup, tempat kita terus belajar memahami pikiran, emosi, nilai, dan perilaku kita sendiri.

Dengan membangun kesadaran diri yang kuat, kita bukan hanya menjadi pribadi yang lebih stabil dan matang, tetapi juga mampu mengambil keputusan yang lebih bijaksana, membangun hubungan yang lebih sehat, dan menjalani hidup dengan arah yang lebih jelas.

Sumber :
(1) Carden, L., Jones, A., & Passmore, J. (2021). Defining self-awareness in the twenty-first century: A systematic literature review. Consulting Psychology Journal: Practice and Research, 73(2), 146–167.
https://doi.org/10.1037/cpb0000200 
(2) London, M., Domínguez, A., Lanaj, K., & De Pater, I. E. (2023). Self-awareness in the workplace: A review and future research agenda. Journal of Management, 49(2), 389–418.
https://doi.org/10.1177/01492063221085950 
(3) Morin, A. (2011). Self-awareness part 1: Definition, measures, effects, functions, and antecedents. Social and Personality Psychology Compass, 5(10), 807–823.
https://doi.org/10.1111/j.1751-9004.2011.00387.x 
(4) Sutton, A. (2016). Measuring the effects of self-awareness: Construction of the Self-Awareness Outcomes Questionnaire (SAOQ). Europe’s Journal of Psychology, 12(4), 645–658.
https://doi.org/10.5964/ejop.v12i4.1173 
(5) UGM Psikologi. (2024). Self-Awareness: Mengenali Diri dalam Perspektif Psikologi. BPPMP Psikomedia.
https://bppmpsikomedia.psikologi.ugm.ac.id/glopsyrium/self-awareness-mengenali-diri-dalam-perspektif-psikologi/  


Penulis : Mia Kultsum Safitri


#SelfAwareness 
#MencintaiDiriSendiri
#LoveYourSelf
#DivisiContentWriterBatch13
#PemudaGatraAryaguna
#PagarRayaBatch'13
#PagarRaya 
#Pagaria

4 Jan 2026

Terlalu Sadar, Terlalu Keras: Dilema Self Awareness Gen Z

Terlalu Sadar, Terlalu Keras: Dilema Self Awareness Gen Z

Create by : @Tim Content Writer PagarRaya’13


Halo, Pagaria!

Pernah nggak sih kamu merasa sudah cukup mengenal diri sendiri, tapi justru sering capek dengan pikiran sendiri? Di tengah generasi yang katanya paling “aware”, banyak Gen-Z yang diam-diam kelelahan karena terlalu sering menuntut dirinya untuk selalu kuat, selalu benar, dan selalu berkembang tanpa jeda.


Gen-Z dikenal sebagai generasi yang akrab dengan istilah self awareness, self love, boundaries, dan kesehatan mental. Kita terbiasa merefleksikan diri, membaca emosi, dan memahami luka batin. Namun, tanpa disadari, kesadaran diri ini kadang berubah arah. Alih-alih menjadi alat untuk memahami diri, self awareness justru menjadi alasan untuk terus mengkritik dan menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang sebenarnya masih wajar dalam proses bertumbuh.


Banyak dari kita terlalu fokus pada kekurangan. Setiap kesalahan kecil dipikirkan berulang-ulang, setiap keputusan diragukan, dan setiap kegagalan terasa seperti bukti bahwa diri ini belum cukup baik. Kita sadar akan kelemahan, tapi lupa bahwa manusia tidak diciptakan untuk selalu stabil dan sempurna. Tekanan ini sering muncul dari standar ideal yang kita bangun sendiri ingin cepat matang, cepat sukses, dan cepat “beres” dengan diri sendiri.


Lalu, bagaimana self awareness yang lebih sehat untuk Gen-Z?

Beberapa hal sederhana ini bisa menjadi langkah awal:

  • Bedakan refleksi dan menghakimi diri

Merefleksikan diri berarti memahami apa yang terjadi, bukan mencari-cari kesalahan untuk disesali terus-menerus.

  • Izinkan diri untuk tidak selalu kuat

Self awareness bukan tentang selalu tenang dan dewasa, tapi tentang jujur pada kondisi diri, termasuk saat sedang lelah atau bingung.

  • Fokus pada proses, bukan versi ideal

Mengenal diri bukan perlombaan. Setiap orang punya ritme dan waktu tumbuh yang berbeda.

  • Berempati pada diri sendiri

Jika kamu bisa bersikap lembut pada orang lain yang sedang berjuang, kamu juga berhak bersikap lembut pada dirimu sendiri.


Pada akhirnya, self awareness seharusnya menjadi ruang aman, bukan ruang pengadilan. Kesadaran diri yang sehat membantu Gen-Z memahami diri tanpa kehilangan empati pada diri sendiri. Mengenal diri bukan soal menghakimi setiap kekurangan, tetapi menerima bahwa bertumbuh memang tidak selalu rapi. Dan di tengah dunia yang menuntut kita untuk terus bergerak, bersikap lembut pada diri sendiri adalah bentuk kesadaran yang paling jujur.


Kesimpulan

Self awareness adalah kemampuan penting bagi Gen Z untuk memahami diri di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks. Namun, kesadaran diri akan kehilangan maknanya jika justru berubah menjadi kebiasaan menghakimi diri sendiri. Mengenal diri bukan tentang menuntut kesempurnaan, melainkan tentang menerima proses, keterbatasan, dan dinamika emosi yang manusiawi. 


Dengan self awareness yang sehat, Gen Z dapat belajar berdamai dengan dirinya sendiri, bertumbuh tanpa tekanan berlebihan, dan menjalani hidup dengan lebih jujur serta seimbang.


Sumber :

(1) ANTARA News. (2024). Gen Z bersikap proaktif menjaga kesehatan mental.

(2) IDN Times. (2023). 6 teknik kreatif Gen Z dalam membangun self-awareness.

(3) Web of Scientist Journal. (2022). The role and importance of self-awareness and assessment in a person’s life.



Penulis : Ayufelicia 


#SocialAwareness
#GenZLife
#SelfReflection
#SelfGrowth
#EmotionalAwareness
#PersonalDevelopment
#WriteToInspire
#DivisiContentWriterBatch13
#PemudaGatraAryaguna
#PagarRayaBatch'13
#PagarRaya 
#Pagaria

28 Des 2025

Generasi Burnout: Dampak Standar Bahagia yang Tak Terjangkau pada Gen Z

Generasi Burnout: Dampak Standar Bahagia yang Tak Terjangkau pada Gen Z

Create by : @Tim Content Writer PagarRaya’13


Halo Pagaria!

Coba jujur, siapa di sini yang nggak pernah merasa harus sempurna di semua platform? Kita, sebagai Gen Z, memang melek teknologi dan super kreatif. Tapi di balik feed Instagram yang aesthetic dan story yang selalu seru, kita diam-diam lagi berjuang keras banget. Bener ngga?

Tuntutan untuk happy, sukses, dan produktif di usia muda itu nggak main-main. Ekspektasi dari media sosial, keluarga, sampai lingkungan kerja, semuanya kayak gas rem blong yang bikin kita capek.

Nggak heran kalau banyak dari kita kena burnout misalkan seperti kondisi overload emosi, fisik, dan mental karena stres nggak berhenti. Menurut Kamus Psikologi APA, burnout adalah kelelahan fisik, emosional, dan mental yang bikin motivasi dan kinerja ikutan drop.

Parahnya lagi, hasil penelitian juga nggak bohong. Berikut ini penjelasannya

  • Banyak Gen Z yang memang lebih rentan burnout dibanding generasi lain, gara-gara tekanan buat sempurna di segala aspek (kata Pew Research Center, 2023).
  • Bahkan, 45% remaja Gen Z mengaku tingkat stresnya tinggi banget karena nggak mampu memenuhi standar kebahagiaan yang gencar dipromosikan di digital (*laporan dari American Psychological Association, 2022).
Nah, di konten kali ini, kita akan bongkar kenapa standar kebahagiaan nggak realistis ini bikin mental down, dan gimana cara kita bisa mengatasi burnout tanpa harus pura-pura happy terus!

Kita sudah tahu kalau burnout itu nyata. Tapi apa sih yang bikin Gen Z dan milenial rentan banget? Ternyata, akar masalahnya bukan cuma tumpukan deadline di kantor, tapi juga tuntutan hidup di era digital.

3 Faktor Pemicu Utama Burnout di Era Digital:

1. Koneksi Non-Stop Tanpa Henti 📱

Gadget dan WiFi memang keren, tapi mereka bikin kita merasa harus selalu siap sedia. Email masuk jam 9 malam? Langsung balas! Pesan dari bos hari Minggu? Langsung buka! Keterhubungan yang nggak ada matinya ini bikin kita nggak punya waktu break yang cukup. Otak kita nggak sempat santai, dan tekanan ini perlahan-lahan memicu kelelahan mental.

2. Tekanan untuk Selalu Produktif All-Out 💯

Di dunia yang kompetitif, ada mindset kalau kita harus selalu 'gas pol'. Kita dituntut performa terbaik di kantor, kampus, bahkan di rumah. Kalau kita nggak sibuk, rasanya bersalah. Tekanan untuk selalu on-fire ini bikin kita mengorbankan waktu pribadi dan kesehatan mental. Bahkan kalau ini terus-terusan, burnout sudah pasti nggak bisa dihindari.

3. Perbandingan Sosial di Media Sosial 💔

Media sosial itu pedang bermata dua. Selain buat koneksi, platform ini seringkali jadi panggung standar kebahagiaan yang palsu dan nggak realistis. Kita lihat hidup orang lain yang kayaknya sempurna terus. Perasaan nggak puas dan tekanan buat selalu tampil flawless inilah yang nambah kecemasan kita.

🤯 Standar Kebahagiaan yang Menjebak 🤯

Faktor-faktor di atas diperparah dengan tekanan nggak nyata, terutama bagi Gen Z dan milenial:

  • Jebakan Perfeksionis

Kita terperangkap di standar buat sempurna dalam segala hal, nilai harus A, penampilan harus on point, nggak boleh ada cacat. Padahal, wajar banget kalau manusia bikin kesalahan! Tekanan buat sempurna itu cuma menciptakan kecemasan.

  • Kebahagiaan Berbasis Materi

Banyak dari kita yakin, kita baru akan happy kalau sudah punya pencapaian materi gede (rumah mewah, mobil terbaru). Padahal, kebahagiaan instan dari barang itu sifatnya sebentar, karena keinginan manusia itu nggak pernah berhenti berkembang.


Ketika kita menetapkan standar kebahagiaan yang setinggi langit (harus selalu happy dan hidup sempurna), kita pasti akan terus-menerus gagal. Ini menimbulkan frustasi dan perasaan nggak cukup baik. Kita jadi memaksakan diri buat pura-pura fine tanpa kasih ruang buat pemulihan, alhasil, energi emosional kita terkuras habis.

Kesimpulan : 

Pagaria boleh catat solusinya gampang bangett nihh.. 

Untuk mencegah burnout ini, kita perlu menurunkan standar kebahagiaan jadi lebih realistis. Terima kalau sedih, kecewa, atau lelah itu wajar. Fokus pada hal-hal kecil yang membahagiakan, dan jangan lupa self-compassion saat kita gagal. Kalau rasa overload sudah parah, konsultasi ke psikolog atau terapis adalah langkah paling tepat. Dengan begitu, happy itu bisa jadi hal yang alami dan berkelanjutan, nggak lagi jadi beban!

Jadilah self-aware. Bahagia itu bukan tujuan yang harus dikejar gila-gilaan, tapi hasil dari hidup yang seimbang dan penerimaan diri. Yuk, kita mulai peduli pada diri sendiri hari ini!"

Sumber :

(1) Sulianta, Feri. (2025). Ego dan Sosial Media. FERI SULIANTA PRESS.       https://www.researchgate.net/publication/392285398_EGO_dan_Media_Sosial


(2) American Psychological Association. (2022). Stress in America: Struggling to Navigate a Changing World.
https://www.apa.org/news/press/releases/stress/2022/concerned-future-inflation#:~:text=More%20than%20three%2Dquarters%20of,of%20stress%20in%20their%20lives.

(3) Febriana Sulistya Pratiwi. 2023. Ini Sederet Gejala Burnout yang Dialami Gen Z Indonesia.
https://dataindonesia.id/kesehatan/detail/ini-sederet-gejala-burnout-yang-dialami-gen-z-indonesia

(4) Saskia Maharani Primasti. 2024. Mengungkap Fenomena Burnout di Kalangan Generasi Z.
https://www.kompasiana.com/saskiamaharani4636/66fe88c4ed641559900de472/mengungkap-fenomena-burnout-di-kalangan-generasi-z-mengapa-kita-mudah-lelah-di-era-digital


Penulis : Ayu Desty Mulianisa


#Generasi Burnout
#EraGenZ
#DivisiContentWriterBatch13
#PemudaGatraAryaguna
#PagarRayaBatch'13
#PagarRaya 
#Pagaria

21 Des 2025

Representasi “Empati” di Era Kekuasaan Gen Z

Representasi “Empati” di Era Kekuasaan Gen Z

Create by : @Tim Content Writer PagarRaya’13

Halo Pagaria!

Coba hitung, sudah berapa kali Pagaria ikutan nangis pas nonton video-video sedih di FYP TikTok?

Sekali? Dua kali? Atau nggak terhitung saking seringnya?


For Your Information.. nih, Pagaria

Sebanyak itulah empati Pagaria bekerja. Empati memungkinkan seseorang merasakan emosi orang lain seolah-olah lagi ada di posisi yang sama. Empati membuat kamu bisa merasakan sedih, haru, ataupun bahagia tanpa benar-benar mengalami suatu peristiwa secara langsung.

Nah, di era digital ini, kehadiran empati justru kerap dipicu oleh konten yang dikonsumsi melalui layar perangkat elektronik. Device yang selalu dekat dengan keberadaan kamu mempermudah interaksi antarmanusia meskipun tanpa sentuhan nyata. Lifestyle yang telah berkembang sedemikian masifnya pun ngizinin kamu berempati bahkan lima detik setelah bangun tidur di pagi hari. Secepat itu lho!

Lantas, gimana ya, empati memainkan perannya di era dominasi Generasi Z saat ini? Ketika interaksi manusia semakin dimediasi oleh teknologi?

Kita bahas bareng-bareng yuk, Pagaria!


Benar Nggak Sih, Gen Z 'Kurang Empati'?

Label “kurang empati” sering kali disematkan pada Generasi Z, atau yang biasa kita singkat Gen Z. Mereka dianggap cuek, individualistis, dan terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Tetapi, anggapan ini justru seakan mengabaikan konteks besar yang membentuk karakter mereka abad ini.

Gen Z melewati fase penting transisi dari remaja menuju dewasa di tengah pandemi Covid-19. Masa ketika interaksi sosial seharusnya berkembang, tetapi malah dibatasi oleh jarak, layar, dan kebijakan mendunia berupa karantina. Sekolah ditutup, pertemanan direduksi menjadi interaksi virtual, dan pengalaman sosial terbentuk dalam keterbatasan.

Setiap individu Gen Z yang terdampak efek pandemi berakhir dengan mengubah cara mereka tumbuh dan berekspresi. Empati Gen Z nggak selalu hadir dalam bentuk kehadiran fisik atau keterlibatan langsung, melainkan lewat reaksi digital, seperti: like, share, dan pesan singkat penuh simpati. Masalahnya, bentuk empati ini sering dianggap kurang “real” oleh generasi sebelumnya. Sehingga, narasinya disempitkan menjadi “kemampuan empati menurun”.

Padahal, menurut studi pada tahun 2024, skor empati rata-rata Gen Z sedikit lebih tinggi dari Gen Milenial. Meskipun secara statistik nggak signifikan, tapi bisa dijadikan landasan opini kalau perbedaan empati antargenerasi nggak sekontras itu. Mungkin, perbedaan ini bisa dinilai dari gaya tradisional dan modernnya, yang mana Gen Z kini lebih mengutamakan moralitas menyeluruh (universal), tanpa memaksakan moral-moral tertentu.


Kala Media Sosial Menjadi “Kewajiban” Sosial

Pandemi mempercepat pergeseran fungsi media sosial. Dari sekadar menjadi alat komunikasi, media sosial berubah menjadi ruang kedua untuk menjalani hidup. Di situlah manusia bisa berbagi kabar, perasaan, bahkan identitasnya (baik asli maupun alter). Eksistensi diri di media sosial bukan lagi pilihan belaka, melainkan semacam kewajiban dalam kehidupan sosial.

Selama orang-orang menempati ruang kedua berupa dunia maya ini, empati hadir dalam format yang seragam dan instan. Setiap emosi sedih, senang, marah dapat direspons hanya dengan sebuah emoji; tanggapan atas terjadinya suatu tragedi dapat dijawab hanya dengan ketikan “turut berduka,” yang kemudian diakhiri dengan lanjut nge-scroll layar ponsel. Empati menjadi begitu cepat, ringan, dan nggak menuntut keterlibatan lebih jauh.

Akibatnya, bentuk kepedulian sering ditutup dengan sekadar pemberian reaksi. Nggak ada ruang cukup untuk memahami konteks, memastikan validitas, apalagi memutuskan untuk bertindak. Media sosial membuat empati mudah diakses, tetapi juga mudah dilupakan.

Dalam buku berjudul “Science of Evil”, Simon Baron-Cohen menuliskan bahwa emoji-emoji di ponsel nggak akan pernah memungkinkan antarmanusia untuk terhubung secara emosional. Bahkan ironisnya, pemberian respons empati itu malah terasa seperti apatis.


Refleksi Akhir

Empati hari ini lebih sering hadir sebagai respons sekilas, bukannya bertujuan untuk mengembangkan relasi–seperti yang orang-orang zaman dulu  cari. Empati kala ini hanyalah berbentuk perasaan sesaat, nggak menyediakan keterlibatan yang berkelanjutan.

Jadi, kalau Pagaria mau memperbaiki sistem ini, tantangan terbesarnya bukan di bagaimana cara untuk mengajarkan kembali manusia untuk berempati, melainkan mengembalikan empati kepada fungsi awalnya: hadir, memahami, dan bertindak.

Kesimpulan :

Jadi, Pagaria, empati di era “kekuasaan” Gen Z tuh nggak serta-merta berkurang. Empati cuma berpindah bentuk dan ruang saja. Kapasitas untuk merasa peduli tetap ada, tetapi sering kali disalurkan secara keliru, misalnya: terhalangi oleh akses berupa pemberian reaksi instan, pemberian validasi digital, dan penyempitan lingkaran interaksi sosial secara nyata.

More than ever, we must continue to bring real democracy to life: where we see each other, where we argue together, where we build together and where quite simply, we live together. —Anne Hidalgo


Sumber :

(1) Mangione, S. (2024). The Empathy Gap. The American Journal of Medicine, 137(3), 290-291.

https://www.amjmed.com/action/showPdf?pii=S0002-9343%2823%2900763-5


(2) Karakuttikaran, C., & Kolachina, A. (2024). “Me, An Empath?”: Value Priorities and Trait Empathy Among Millennials and Generation Z. International Journal of Indian Psychȯlogy, 12(1).


https://www.researchgate.net/profile/Christine-Karakuttikaran/publication/378691459_Me_An_Empath_Value_Priorities_and_Trait_Empathy_Among_Millennials_and_Generation_Z/links/65e6c284e7670d36abfd493b/Me-An-Empath-Value-Priorities-and-Trait-Empathy-Among-Millennials-and-Generation-Z.pdf


Penulis : Ni Luh Nyoman Vitari Amritaning Ati


#LackofEmpathy
#DearReader
#MentalHealth
#DivisiContentWriterBatch13
#PemudaGatraAryaguna
#PagarRayaBatch'13
#PagarRaya 
#Pagaria