31 Jan 2026

Burnout sebagai Masalah Sistemik di Berbagai Lingkungan

Burnout sebagai Masalah Sistemik di Berbagai Lingkungan

Create by : @Tim Content Writer PagarRaya’13


Halo Pagaria!

Kita semua pernah mendengar istilah burnout. Pagaria juga, kan?

Kata burnout semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari, mulai dari ruang kelas, organisasi mahasiswa, hingga lingkungan kerja profesional.

Kondisi ini bukan sekadar rasa lelah biasa yang bisa hilang setelah tidur semalam. Burnout adalah kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang muncul akibat stres berkepanjangan, terutama ketika tuntutan yang dihadapi terasa melebihi kapasitas diri.

Burnout sering kali tidak disadari sejak awal. Gejalanya bisa berupa kehilangan motivasi, mudah tersinggung, menurunnya performa, hingga munculnya perasaan tidak berdaya.

Menariknya, berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa burnout tidak hanya dipengaruhi oleh individu, tetapi juga oleh sistem dan lingkungan tempat seseorang beraktivitas. 

Melalui artikel ini, kita akan membahas bagaimana masyarakat Indonesia mengatasi burnout berdasarkan beberapa temuan dari penelitian yang dilakukan, dengan konteks organisasi mahasiswa, lingkungan kerja karyawan, dan lingkup tenaga pendidik.


  • Burnout dalam Organisasi Mahasiswa

Salah satu penelitian mengenai burnout dilakukan pada lima mahasiswa dari tiga perguruan tinggi berbeda yang seluruhnya memiliki jabatan dalam organisasi kampus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa burnout pada anggota organisasi mahasiswa terjadi secara kompleks dan mencakup tiga dimensi utama.

Pertama, dimensi beban kerja serta tumpang tindih tanggung jawab, di mana satu individu kerap memegang lebih dari satu peran tanpa kejelasan batas tugas. Kedua, dimensi tekanan emosional yang muncul akibat relasi sosial dalam organisasi, seperti konflik internal, miskomunikasi, atau ekspektasi yang tidak tersampaikan dengan baik. Ketiga, dimensi lemahnya manajemen sistem organisasi, termasuk pembagian peran yang tidak merata dan kurangnya koordinasi.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, dukungan sosial terbukti berperan penting. Dukungan yang diterima para mahasiswa terbagi dalam tiga bentuk, yaitu dukungan emosional berupa empati dan pengertian, dukungan apresiatif seperti pengakuan atas kontribusi, serta dukungan instrumental berupa bantuan konkret dalam menyelesaikan tugas. Ketiga bentuk dukungan ini membantu mahasiswa merasa tidak sendirian dan mampu mengelola tekanan organisasi dengan lebih sehat.


  • Burnout dalam Lingkungan Kerja Karyawan

Burnout juga menjadi isu serius di dunia kerja.

Sebuah kegiatan pengabdian masyarakat nasional interaktif yang diikuti oleh 120 tenaga kerja dan staf administrasi usia 20–50 tahun menunjukkan bahwa sekitar 72% peserta mengalami burnout ringan hingga sedang. Sementara itu, sekitar 65% peserta berada pada tingkat self-efficacy sedang, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya menyelesaikan tugas dan menghadapi tantangan.

Melalui pendekatan penguatan self-efficacy, muncul beberapa temuan penting. Pertama, adanya kebutuhan akan dukungan sosial yang kuat di lingkungan kerja, karena relasi yang suportif terbukti membantu mengurangi tekanan psikologis. Kedua, peserta menyadari pentingnya komunikasi asertif untuk mengelola beban kerja dan mencegah konflik interpersonal. Ketiga, seminar mendorong peserta untuk lebih memperhatikan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang sering terabaikan.

Kesimpulannya, penguatan self-efficacy terbukti efektif dalam membantu karyawan mengatasi burnout. Dengan keyakinan diri yang lebih baik, individu mampu mengelola tuntutan kerja secara konstruktif, menerapkan strategi manajemen stres, serta membangun lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif.


  • Burnout dalam Lingkup Tenaga Pendidik

Penelitian burnout juga dilakukan dalam lingkup tenaga pendidik, khususnya di Pondok Pesantren yang memiliki struktur organisasi kompleks, melibatkan pimpinan, guru, dan karyawan pendukung. Secara akademik, burnout pada tenaga pendidik perlu dilihat sebagai isu multidimensi. Burnout tidak hanya mencerminkan kondisi individu, tetapi juga kegagalan sistem dalam mendukung kesejahteraan guru.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) upaya menciptakan lingkungan kerja yang sehat, disertai 2) penghargaan dan pengakuan terhadap kinerja guru; memberikan dampak signifikan. Sebagai contoh, dukungan dari pimpinan sekolah dapat meningkatkan rasa dihargai, memperkuat solidaritas antarguru, serta menciptakan suasana kerja yang kondusif dan kolaboratif. Selain itu, apresiasi yang konsisten juga mendorong motivasi, kepuasan kerja, dan pengembangan profesional tenaga pendidik.


Kesimpulan :

        Burnout Bukan Masalah Pribadi Semata

Jadi, Pagaria, dari ketiga konteks tersebut, dapat disimpulkan bahwa burnout bukan sekadar persoalan individu yang “tidak kuat” menghadapi tekanan. 

Burnout adalah sinyal adanya ketidakseimbangan antara tuntutan dan dukungan, baik di organisasi mahasiswa, lingkungan kerja, maupun dunia pendidikan. Dukungan sosial, sistem yang adil, komunikasi yang sehat, serta penguatan keyakinan diri menjadi kunci utama dalam mengatasinya. 

Dengan memahami burnout secara lebih utuh, Pagaria tidak hanya belajar bertahan, tetapi juga membangun lingkungan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan bagi semua.


Istirahat bukan tanda kelemahan, tetapi investasi hak dalam kebijaksanaan -Jack Groppel-


Sumber :

(1) Abellio, T., Arrizqi, N. P., Rahmadani, S., Akbar, M. F., Samheri, A. W., Al-Mustaqim, M. F., ... & Ulfa, H. (2025). Meningkatkan Self-efficacy untuk Mengatasi Burnout Akibat Stres Kerja. JUMPUTAN: Jurnal Multidisiplin Pengabdian Masyarakat, 1(1), 37-48.

(2) Holifah, H. (2025). Epidemi Burn Out: Strategi Organisasi untuk Meningkatkan Kesejahteraan Karyawan. MindScape: Journal of Psychology, 1(1), 13-22.

(3) Maeyani, F., Nuriyyatiningrum, N. A. H., & Ikhrom, I. (2025). ANALISIS DUKUNGAN SOSIAL DALAM MENGATASI BURNOUT PADA ANGGOTA ORGANISASI MAHASISWA. PAEDAGOGY: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi, 5(1), 267-278


Penulis : Ni Luh Nyoman Vitari Amritaning Ati


#Burnout
#DearReader
#DivisiContentWriterBatch13
#PemudaGatraAryaguna
#PagarRayaBatch'13
#PagarRaya 
#Pagaria

25 Jan 2026

Social Awareness Gen Z – Tetap Manusia di Tengah Tekanan Zaman

Social Awareness Gen Z – Tetap Manusia di Tengah Tekanan Zaman

Create by : @Tim Content Writer PagarRaya’13

 Halo Pagaria!

Hidup di zaman sekarang rasanya semuanya harus cepat. Cepat lulus, cepat kerja, cepat sukses, dan cepat terlihat “berhasil”. Gen-Z tumbuh di tengah dunia yang penuh tuntutan, standar tinggi, dan perbandingan tanpa henti, terutama dari media sosial. Tanpa sadar, tekanan ini membuat banyak dari kita lebih fokus bertahan daripada peduli.

Menjadi ambisius bukanlah hal yang salah. Tapi ketika semua energi habis untuk mengejar target pribadi, kita sering lupa melihat sekitar. Bukan karena tidak mau peduli, melainkan karena diri sendiri saja sudah terlalu lelah. Di sinilah pentingnya social awareness—kesadaran untuk tetap peka, meski hidup terasa berat.


Saat Dunia Terlalu Menuntut

Pagaria pasti pernah merasa harus kuat terus. Harus terlihat baik-baik saja, padahal di dalam kepala rasanya penuh. Tuntutan untuk selalu produktif membuat istirahat terasa seperti kesalahan. Akhirnya, banyak dari kita memaksa diri berjalan, meski sebenarnya sudah butuh berhenti.

Tekanan ini pelan-pelan membentuk pola hidup yang keras. Kita jadi terbiasa menekan perasaan sendiri, dan tanpa sadar ikut mengabaikan perasaan orang lain.


Menjadi Manusia di Tengah Kesibukan

Di tengah kesibukan mengejar masa depan, social awareness sering dianggap tidak prioritas. Padahal, kepedulian kecil mendengarkan teman, memahami keadaan sekitar, atau sekadar hadir punya dampak besar.

Gen-Z bukan generasi yang tidak peduli. Kita hanya hidup di era yang jarang memberi ruang untuk benar-benar berhenti dan merasakan. Mengembalikan empati bukan soal melakukan hal besar, tapi berani melambat dan sadar bahwa semua orang sedang berjuang dengan versinya masing-masing.


Kesimpulan :

Social awareness adalah pengingat bahwa kita tidak hidup sendirian. Di tengah tekanan zaman, Gen Z tetap perlu menjaga sisi manusianya. Ambisi boleh tinggi, tapi kepedulian jangan sampai hilang. Sebab hidup bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah, tapi juga bagaimana kita memperlakukan diri sendiri dan orang lain.


Tidak apa-apa jika kamu lelah. Tidak apa-apa jika kamu butuh berhenti sebentar. Tetap manusia di tengah tekanan zaman adalah bentuk keberanian. Pelan-pelan juga boleh, asalkan kamu tetap utuh dan peduli


Sumber :

(1) Tekanan Digital Buat Gen Z Burnout Sejak Muda – iBenews.id       https://www.ibenews.id/lifestyle/2056194996/tekanan-digital-buat-gen-z-burnout-sejak-muda


(2)
Hustle Culture dan Kesehatan Mental Gen Z – Bingkai Nasional

https://www.naker.news/dunia-kerja/1991723268/kerja-di-usia-muda-tekanan-besar-mengapa-gen-z-mudah-burnout


Penulis : Rifqi Ariq Sugianto


#SocialAwarenessGenZ
#MentalHealth
#DivisiContentWriterBatch13
#PemudaGatraAryaguna
#PagarRayaBatch'13
#PagarRaya 
#Pagaria 

18 Jan 2026

Retak dalam Layar: Mengapa Gen Z Sulit "Merasakan" di Dunia Nyata?

Retak dalam Layar: Mengapa Gen Z Sulit "Merasakan" di Dunia Nyata?

Create by : @Tim Content Writer PagarRaya’13

Halo Pagaria!

Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu benar-benar mendengarkan curhatan teman tanpa sesekali melirik notifikasi ponsel? atau, pernahkah kamu melihat sebuah tragedi di media sosial dan merasa "biasa saja" karena sudah terlalu sering melihat konten serupa?

FYI nih, Pagaria, itulah salah satu sisi gelap dari kehidupan digital kita. Dibalik kemudahan koneksi, ada empati yang perlahan terkikis. Sebuah fenomena di mana kita lebih peduli pada angle foto yang estetik daripada perasaan orang disekitar kita.


Digital Desensitization : Ketika Tragedi Menjadi Sekadar Konten

Di era ini, batasan antara kepedulian dan eksploitasi menjadi sangat tipis. Kita sering melihat:

  1. Kecelakaan atau musibah yang justru direkam terlebih dahulu demi "konten pertama" daripada ditolong.

  2. Komentar jahat (cyber bullying) yang diketik dengan jari ringan, seolah-olah orang di balik akun tersebut tidak memiliki perasaan.

  3. Fenomena cancel culture yang sering kali menghakimi seseorang tanpa memberi ruang untuk penjelasan atau perbaikan diri.

Media sosial telah mengubah wajah empati. Kita menjadi generasi yang "pintar" menyuarakan isu besar di dunia maya melalui repost story, tapi terkadang "gagap" memberikan simpati pada orang yang duduk tepat di depan meja kita.


Benarkah Gen Z Kehilangan Hati?

Label "individualis" dan "egois" sering disematkan pada Gen-Z. Kita dianggap lebih mencintai diri sendiri (self-love) hingga terkadang lupa bahwa manusia adalah makhluk sosial yang butuh koneksi emosional mendalam.

Namun, benarkah begitu? Faktanya, Gen-Z tumbuh di bawah tekanan algoritma yang menuntut kita untuk selalu fokus pada diri sendiri: personal branding, pencapaian pribadi, dan gaya hidup.

Masalahnya, layar ponsel menciptakan jarak emosional. Saat kita berinteraksi lewat teks atau video, kita kehilangan sinyal-sinyal manusiawi seperti nada suara, tatapan mata, dan bahasa tubuh. Inilah yang membuat empati kita sering kali tidak terasah secara alami.


Ketika Validasi Mengalahkan Koneksi

Media sosial kini menjadi "etalase" kehidupan. Di situlah kita terkadang terjebak dalam rasa iri dan kompetisi, bukan kolaborasi.

  1. Melihat kesuksesan orang lain membuat kita merasa terancam, sehingga sulit untuk ikut merasa bahagia (schadenfreude).

  2. Kita lebih sibuk mencari likes daripada mencari tahu apakah teman kita benar-benar baik-baik saja di balik postingan senyumnya.

  3. Eksistensi diri diukur dari seberapa banyak orang yang memperhatikan kita, bukan seberapa banyak kita memperhatikan orang lain.

Kesimpulan :

Jadi, Pagaria, menjadi aware pada diri sendiri itu penting, tapi jangan sampai menutup pintu hati untuk orang lain. Empati bukan sekadar memberi emoji "sedih" di kolom komentar, melainkan hadir secara utuh saat dibutuhkan.


Kini mulai muncul gerakan Human-to-Human Connection sebagai pengingat bahwa di balik setiap akun, ada manusia yang memiliki luka dan rasa. Tantangan terbesarnya bukan bagaimana menjadi yang paling menonjol di media sosial, melainkan bagaimana tetap menjadi manusia yang hangat di tengah dunia yang semakin dingin secara digital.

Technology is a great servant but a terrible master. Don’t let your screen dim the light of your empathy.


Sumber :

(1) Psychology Today (2025). The Empathy Gap in the Digital Age.

(2) Social Media Ethics Report (2024). Desensitization and Gen Z Behavior.

(3) Digital Wellness Collective. Reconnecting in a Disconnected World.


Penulis : Septian Hadi

#SocialAwareness
#GenZEmpathy
#DigitalDesensitization
#HumanConnection 
#DayByDay
#DivisiContentWriterBatch13
#PemudaGatraAryaguna
#PagarRayaBatch'13
#PagarRaya 
#Pagaria

11 Jan 2026

Self-Awareness: Mengenali Diri dalam Perspektif Psikologi

Self-Awareness: Mengenali Diri dalam Perspektif Psikologi


Create by : @Tim Content Writer PagarRaya’13


Halo, Pagaria!

Seiring dengan meningkatnya tren pengembangan diri di masyarakat, istilah self-awareness (kesadaran diri) semakin populer akhir-akhir ini. Namun, apakah kita benar-benar memahami apa itu self-awareness, dan mengapa hal tersebut penting dalam kehidupan kita? Artikel ini akan mengajakmu menyelami konsep self-awareness dari sudut pandang psikologi, serta bagaimana cara membangunnya.


Apa Itu Self-Awareness?

Secara sederhana, self-awareness berarti mengenali diri sendiri, yaitu menyadari proses psikologis dalam diri kita, sekaligus bagaimana kita berinteraksi dengan dunia luar. Konsep ini berkaitan dengan istilah-istilah lain seperti self-knowledge, self-image, self-identity, dan sebagainya.

Menurut penelitian (Carden et al., 2021 dan London et al., 2023), self-awareness memiliki dua dimensi utama:

  • Internal self-awareness, berkaitan dengan hal dalam diri seperti kepribadian, nilai, kebiasaan, proses pikir dan emosi.
  • External self-awareness, berkaitan dengan bagaimana kita tampil, berperilaku, dan berinteraksi dengan orang lain/lingkungan sekitar.


Mengapa Self-Awareness Penting?

Self-awareness bukan hanya sekedar “tahu diri”, melainkan alat penting dalam berbagai aspek kehidupan.

  • Pengembangan Diri & Belajar
Dengan mengenali nilai, kelebihan, kelemahan, dan preferensi diri, kita bisa membimbing diri untuk berkembang kearah yang selaras dengan diri kita.

  • Pengambilan Keputusan
Self-awareness membantu kita menentukan pilihan, misalnya memilih jurusan, karier, atau hubungan, berdasarkan pengetahuan mendalam tentang diri sendiri, bukan sekadar dorongan sesaat.

  • Hubungan Sosial

Dengan sadar akan cara kita berinteraksi, perasaan dan reaksi kita, kita bisa berkomunikasi dan bersikap lebih baik terhadap orang lain. Hal ini memperkuat kualitas relasi.

  • Kesehatan Mental

Memahami diri sendiri, pikiran, emosi, reaksi, dan membantu menjaga keseimbangan batin, dan bisa menjadi fondasi bagi kesejahteraan psikologis.


Bagaimana Self-Awareness Dapat Berkembang?

Self-awareness bukan sesuatu yang instan; ia berkembang melalui proses berkelanjutan.

Menurut penelitian (misalnya London et al., 2025), ada beberapa proses yang mendukung perkembangan self-awareness :

  • Reflection (Refleksi diri)

Secara sadar memperhatikan pikiran, perasaan, dan pengalaman diri sendiri.

  • Metacognition (Metakognisi)

Kemampuan menyadari dan menganalisis cara berpikir kita sendiri.

  • Mindfulness (Kesadaran penuh saat ini)

Memperhatikan apa yang kita rasakan dan alami di momen sekarang, tanpa penilaian berlebihan.


Sebaliknya,

  • Rumination

Yaitu overthinking yang berlebihan, terutama dipicu rasa stres, takut, atau atau trauma, justru dapat menghambat manfaat self-awareness dan berdampak negatif.


Cara Praktis Meningkatkan Self-Awareness

Berikut beberapa cara sederhana yang bisa kamu terapkan untuk melatih dan meningkatkan self-awareness :

  • Jurnal harian, menulis pikiran, perasaan, pengalaman, dan reaksi kamu secara rutin.
  • Refleksi rutin, mengambil waktu untuk merenung: apa yang kamu rasakan, mengapa, dan bagaimana pengaruhnya terhadap diri dan orang lain.
  • Tes kepribadian/konsultasi psikologi, untuk memperoleh insight tentang gaya kepribadian, kekuatan & kelemahan, dan pola pikir.
  • Minta feedback dari orang terdekat, kadang orang lain bisa melihat hal dalam dirimu yang kamu sendiri tidak sadari.
  • Latihan mindfulness, seperti meditasi, pernapasan, atau hanya menyadari perasaan disaat sekarang tanpa penilaian.


Kesimpulan :

Self-awareness adalah keterampilan penting yang membuka jalan bagi pengembangan diri, hubungan sosial yang sehat, keseimbangan mental, dan keputusan hidup yang lebih bijaksana. Prosesnya memerlukan kesadaran, komitmen, dan latihan terus-menerus, tetapi hasilnya bisa sangat membentuk kualitas hidup kita.
Kalau kamu tertarik, kamu bisa mulai dari hal kecil, tulis jurnal, refleksi harian, atau minta feedback dari teman/keluarga. Siapa tahu perubahan besar dimulai dari langkah sederhana.
        Pada akhirnya, mengenal diri bukanlah perjalanan yang selesai dalam satu langkah. Self-awareness adalah proses seumur hidup, tempat kita terus belajar memahami pikiran, emosi, nilai, dan perilaku kita sendiri.

Dengan membangun kesadaran diri yang kuat, kita bukan hanya menjadi pribadi yang lebih stabil dan matang, tetapi juga mampu mengambil keputusan yang lebih bijaksana, membangun hubungan yang lebih sehat, dan menjalani hidup dengan arah yang lebih jelas.

Sumber :
(1) Carden, L., Jones, A., & Passmore, J. (2021). Defining self-awareness in the twenty-first century: A systematic literature review. Consulting Psychology Journal: Practice and Research, 73(2), 146–167.
https://doi.org/10.1037/cpb0000200 
(2) London, M., Domínguez, A., Lanaj, K., & De Pater, I. E. (2023). Self-awareness in the workplace: A review and future research agenda. Journal of Management, 49(2), 389–418.
https://doi.org/10.1177/01492063221085950 
(3) Morin, A. (2011). Self-awareness part 1: Definition, measures, effects, functions, and antecedents. Social and Personality Psychology Compass, 5(10), 807–823.
https://doi.org/10.1111/j.1751-9004.2011.00387.x 
(4) Sutton, A. (2016). Measuring the effects of self-awareness: Construction of the Self-Awareness Outcomes Questionnaire (SAOQ). Europe’s Journal of Psychology, 12(4), 645–658.
https://doi.org/10.5964/ejop.v12i4.1173 
(5) UGM Psikologi. (2024). Self-Awareness: Mengenali Diri dalam Perspektif Psikologi. BPPMP Psikomedia.
https://bppmpsikomedia.psikologi.ugm.ac.id/glopsyrium/self-awareness-mengenali-diri-dalam-perspektif-psikologi/  


Penulis : Mia Kultsum Safitri


#SelfAwareness 
#MencintaiDiriSendiri
#LoveYourSelf
#DivisiContentWriterBatch13
#PemudaGatraAryaguna
#PagarRayaBatch'13
#PagarRaya 
#Pagaria

4 Jan 2026

Terlalu Sadar, Terlalu Keras: Dilema Self Awareness Gen Z

Terlalu Sadar, Terlalu Keras: Dilema Self Awareness Gen Z

Create by : @Tim Content Writer PagarRaya’13


Halo, Pagaria!

Pernah nggak sih kamu merasa sudah cukup mengenal diri sendiri, tapi justru sering capek dengan pikiran sendiri? Di tengah generasi yang katanya paling “aware”, banyak Gen-Z yang diam-diam kelelahan karena terlalu sering menuntut dirinya untuk selalu kuat, selalu benar, dan selalu berkembang tanpa jeda.


Gen-Z dikenal sebagai generasi yang akrab dengan istilah self awareness, self love, boundaries, dan kesehatan mental. Kita terbiasa merefleksikan diri, membaca emosi, dan memahami luka batin. Namun, tanpa disadari, kesadaran diri ini kadang berubah arah. Alih-alih menjadi alat untuk memahami diri, self awareness justru menjadi alasan untuk terus mengkritik dan menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang sebenarnya masih wajar dalam proses bertumbuh.


Banyak dari kita terlalu fokus pada kekurangan. Setiap kesalahan kecil dipikirkan berulang-ulang, setiap keputusan diragukan, dan setiap kegagalan terasa seperti bukti bahwa diri ini belum cukup baik. Kita sadar akan kelemahan, tapi lupa bahwa manusia tidak diciptakan untuk selalu stabil dan sempurna. Tekanan ini sering muncul dari standar ideal yang kita bangun sendiri ingin cepat matang, cepat sukses, dan cepat “beres” dengan diri sendiri.


Lalu, bagaimana self awareness yang lebih sehat untuk Gen-Z?

Beberapa hal sederhana ini bisa menjadi langkah awal:

  • Bedakan refleksi dan menghakimi diri

Merefleksikan diri berarti memahami apa yang terjadi, bukan mencari-cari kesalahan untuk disesali terus-menerus.

  • Izinkan diri untuk tidak selalu kuat

Self awareness bukan tentang selalu tenang dan dewasa, tapi tentang jujur pada kondisi diri, termasuk saat sedang lelah atau bingung.

  • Fokus pada proses, bukan versi ideal

Mengenal diri bukan perlombaan. Setiap orang punya ritme dan waktu tumbuh yang berbeda.

  • Berempati pada diri sendiri

Jika kamu bisa bersikap lembut pada orang lain yang sedang berjuang, kamu juga berhak bersikap lembut pada dirimu sendiri.


Pada akhirnya, self awareness seharusnya menjadi ruang aman, bukan ruang pengadilan. Kesadaran diri yang sehat membantu Gen-Z memahami diri tanpa kehilangan empati pada diri sendiri. Mengenal diri bukan soal menghakimi setiap kekurangan, tetapi menerima bahwa bertumbuh memang tidak selalu rapi. Dan di tengah dunia yang menuntut kita untuk terus bergerak, bersikap lembut pada diri sendiri adalah bentuk kesadaran yang paling jujur.


Kesimpulan

Self awareness adalah kemampuan penting bagi Gen Z untuk memahami diri di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks. Namun, kesadaran diri akan kehilangan maknanya jika justru berubah menjadi kebiasaan menghakimi diri sendiri. Mengenal diri bukan tentang menuntut kesempurnaan, melainkan tentang menerima proses, keterbatasan, dan dinamika emosi yang manusiawi. 


Dengan self awareness yang sehat, Gen Z dapat belajar berdamai dengan dirinya sendiri, bertumbuh tanpa tekanan berlebihan, dan menjalani hidup dengan lebih jujur serta seimbang.


Sumber :

(1) ANTARA News. (2024). Gen Z bersikap proaktif menjaga kesehatan mental.

(2) IDN Times. (2023). 6 teknik kreatif Gen Z dalam membangun self-awareness.

(3) Web of Scientist Journal. (2022). The role and importance of self-awareness and assessment in a person’s life.



Penulis : Ayufelicia 


#SocialAwareness
#GenZLife
#SelfReflection
#SelfGrowth
#EmotionalAwareness
#PersonalDevelopment
#WriteToInspire
#DivisiContentWriterBatch13
#PemudaGatraAryaguna
#PagarRayaBatch'13
#PagarRaya 
#Pagaria