28 Des 2025

Generasi Burnout: Dampak Standar Bahagia yang Tak Terjangkau pada Gen Z

Create by : @Tim Content Writer PagarRaya’13


Halo Pagaria!

Coba jujur, siapa di sini yang nggak pernah merasa harus sempurna di semua platform? Kita, sebagai Gen Z, memang melek teknologi dan super kreatif. Tapi di balik feed Instagram yang aesthetic dan story yang selalu seru, kita diam-diam lagi berjuang keras banget. Bener ngga?

Tuntutan untuk happy, sukses, dan produktif di usia muda itu nggak main-main. Ekspektasi dari media sosial, keluarga, sampai lingkungan kerja, semuanya kayak gas rem blong yang bikin kita capek.

Nggak heran kalau banyak dari kita kena burnout misalkan seperti kondisi overload emosi, fisik, dan mental karena stres nggak berhenti. Menurut Kamus Psikologi APA, burnout adalah kelelahan fisik, emosional, dan mental yang bikin motivasi dan kinerja ikutan drop.

Parahnya lagi, hasil penelitian juga nggak bohong. Berikut ini penjelasannya

  • Banyak Gen Z yang memang lebih rentan burnout dibanding generasi lain, gara-gara tekanan buat sempurna di segala aspek (kata Pew Research Center, 2023).
  • Bahkan, 45% remaja Gen Z mengaku tingkat stresnya tinggi banget karena nggak mampu memenuhi standar kebahagiaan yang gencar dipromosikan di digital (*laporan dari American Psychological Association, 2022).
Nah, di konten kali ini, kita akan bongkar kenapa standar kebahagiaan nggak realistis ini bikin mental down, dan gimana cara kita bisa mengatasi burnout tanpa harus pura-pura happy terus!

Kita sudah tahu kalau burnout itu nyata. Tapi apa sih yang bikin Gen Z dan milenial rentan banget? Ternyata, akar masalahnya bukan cuma tumpukan deadline di kantor, tapi juga tuntutan hidup di era digital.

3 Faktor Pemicu Utama Burnout di Era Digital:

1. Koneksi Non-Stop Tanpa Henti 📱

Gadget dan WiFi memang keren, tapi mereka bikin kita merasa harus selalu siap sedia. Email masuk jam 9 malam? Langsung balas! Pesan dari bos hari Minggu? Langsung buka! Keterhubungan yang nggak ada matinya ini bikin kita nggak punya waktu break yang cukup. Otak kita nggak sempat santai, dan tekanan ini perlahan-lahan memicu kelelahan mental.

2. Tekanan untuk Selalu Produktif All-Out 💯

Di dunia yang kompetitif, ada mindset kalau kita harus selalu 'gas pol'. Kita dituntut performa terbaik di kantor, kampus, bahkan di rumah. Kalau kita nggak sibuk, rasanya bersalah. Tekanan untuk selalu on-fire ini bikin kita mengorbankan waktu pribadi dan kesehatan mental. Bahkan kalau ini terus-terusan, burnout sudah pasti nggak bisa dihindari.

3. Perbandingan Sosial di Media Sosial 💔

Media sosial itu pedang bermata dua. Selain buat koneksi, platform ini seringkali jadi panggung standar kebahagiaan yang palsu dan nggak realistis. Kita lihat hidup orang lain yang kayaknya sempurna terus. Perasaan nggak puas dan tekanan buat selalu tampil flawless inilah yang nambah kecemasan kita.

🤯 Standar Kebahagiaan yang Menjebak 🤯

Faktor-faktor di atas diperparah dengan tekanan nggak nyata, terutama bagi Gen Z dan milenial:

  • Jebakan Perfeksionis

Kita terperangkap di standar buat sempurna dalam segala hal, nilai harus A, penampilan harus on point, nggak boleh ada cacat. Padahal, wajar banget kalau manusia bikin kesalahan! Tekanan buat sempurna itu cuma menciptakan kecemasan.

  • Kebahagiaan Berbasis Materi

Banyak dari kita yakin, kita baru akan happy kalau sudah punya pencapaian materi gede (rumah mewah, mobil terbaru). Padahal, kebahagiaan instan dari barang itu sifatnya sebentar, karena keinginan manusia itu nggak pernah berhenti berkembang.


Ketika kita menetapkan standar kebahagiaan yang setinggi langit (harus selalu happy dan hidup sempurna), kita pasti akan terus-menerus gagal. Ini menimbulkan frustasi dan perasaan nggak cukup baik. Kita jadi memaksakan diri buat pura-pura fine tanpa kasih ruang buat pemulihan, alhasil, energi emosional kita terkuras habis.

Kesimpulan : 

Pagaria boleh catat solusinya gampang bangett nihh.. 

Untuk mencegah burnout ini, kita perlu menurunkan standar kebahagiaan jadi lebih realistis. Terima kalau sedih, kecewa, atau lelah itu wajar. Fokus pada hal-hal kecil yang membahagiakan, dan jangan lupa self-compassion saat kita gagal. Kalau rasa overload sudah parah, konsultasi ke psikolog atau terapis adalah langkah paling tepat. Dengan begitu, happy itu bisa jadi hal yang alami dan berkelanjutan, nggak lagi jadi beban!

Jadilah self-aware. Bahagia itu bukan tujuan yang harus dikejar gila-gilaan, tapi hasil dari hidup yang seimbang dan penerimaan diri. Yuk, kita mulai peduli pada diri sendiri hari ini!"

Sumber :

(1) Sulianta, Feri. (2025). Ego dan Sosial Media. FERI SULIANTA PRESS.       https://www.researchgate.net/publication/392285398_EGO_dan_Media_Sosial


(2) American Psychological Association. (2022). Stress in America: Struggling to Navigate a Changing World.
https://www.apa.org/news/press/releases/stress/2022/concerned-future-inflation#:~:text=More%20than%20three%2Dquarters%20of,of%20stress%20in%20their%20lives.

(3) Febriana Sulistya Pratiwi. 2023. Ini Sederet Gejala Burnout yang Dialami Gen Z Indonesia.
https://dataindonesia.id/kesehatan/detail/ini-sederet-gejala-burnout-yang-dialami-gen-z-indonesia

(4) Saskia Maharani Primasti. 2024. Mengungkap Fenomena Burnout di Kalangan Generasi Z.
https://www.kompasiana.com/saskiamaharani4636/66fe88c4ed641559900de472/mengungkap-fenomena-burnout-di-kalangan-generasi-z-mengapa-kita-mudah-lelah-di-era-digital


Penulis : Ayu Desty Mulianisa


#Generasi Burnout
#EraGenZ
#DivisiContentWriterBatch13
#PemudaGatraAryaguna
#PagarRayaBatch'13
#PagarRaya 
#Pagaria

Add Comments


EmoticonEmoticon