| Create by : @Tim Content Writer PagarRaya’13 |
Halo Pagaria!
Coba hitung, sudah berapa kali Pagaria ikutan nangis pas nonton video-video sedih di FYP TikTok?
Sekali? Dua kali? Atau nggak terhitung saking seringnya?
For Your Information.. nih, Pagaria
Sebanyak itulah empati Pagaria bekerja. Empati memungkinkan seseorang merasakan emosi orang lain seolah-olah lagi ada di posisi yang sama. Empati membuat kamu bisa merasakan sedih, haru, ataupun bahagia tanpa benar-benar mengalami suatu peristiwa secara langsung.
Nah, di era digital ini, kehadiran empati justru kerap dipicu oleh konten yang dikonsumsi melalui layar perangkat elektronik. Device yang selalu dekat dengan keberadaan kamu mempermudah interaksi antarmanusia meskipun tanpa sentuhan nyata. Lifestyle yang telah berkembang sedemikian masifnya pun ngizinin kamu berempati bahkan lima detik setelah bangun tidur di pagi hari. Secepat itu lho!
Lantas, gimana ya, empati memainkan perannya di era dominasi Generasi Z saat ini? Ketika interaksi manusia semakin dimediasi oleh teknologi?
Kita bahas bareng-bareng yuk, Pagaria!
Benar Nggak Sih, Gen Z 'Kurang Empati'?
Label “kurang empati” sering kali disematkan pada Generasi Z, atau yang biasa kita singkat Gen Z. Mereka dianggap cuek, individualistis, dan terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Tetapi, anggapan ini justru seakan mengabaikan konteks besar yang membentuk karakter mereka abad ini.
Gen Z melewati fase penting transisi dari remaja menuju dewasa di tengah pandemi Covid-19. Masa ketika interaksi sosial seharusnya berkembang, tetapi malah dibatasi oleh jarak, layar, dan kebijakan mendunia berupa karantina. Sekolah ditutup, pertemanan direduksi menjadi interaksi virtual, dan pengalaman sosial terbentuk dalam keterbatasan.
Setiap individu Gen Z yang terdampak efek pandemi berakhir dengan mengubah cara mereka tumbuh dan berekspresi. Empati Gen Z nggak selalu hadir dalam bentuk kehadiran fisik atau keterlibatan langsung, melainkan lewat reaksi digital, seperti: like, share, dan pesan singkat penuh simpati. Masalahnya, bentuk empati ini sering dianggap kurang “real” oleh generasi sebelumnya. Sehingga, narasinya disempitkan menjadi “kemampuan empati menurun”.
Padahal, menurut studi pada tahun 2024, skor empati rata-rata Gen Z sedikit lebih tinggi dari Gen Milenial. Meskipun secara statistik nggak signifikan, tapi bisa dijadikan landasan opini kalau perbedaan empati antargenerasi nggak sekontras itu. Mungkin, perbedaan ini bisa dinilai dari gaya tradisional dan modernnya, yang mana Gen Z kini lebih mengutamakan moralitas menyeluruh (universal), tanpa memaksakan moral-moral tertentu.
Kala Media Sosial Menjadi “Kewajiban” Sosial
Pandemi mempercepat pergeseran fungsi media sosial. Dari sekadar menjadi alat komunikasi, media sosial berubah menjadi ruang kedua untuk menjalani hidup. Di situlah manusia bisa berbagi kabar, perasaan, bahkan identitasnya (baik asli maupun alter). Eksistensi diri di media sosial bukan lagi pilihan belaka, melainkan semacam kewajiban dalam kehidupan sosial.
Selama orang-orang menempati ruang kedua berupa dunia maya ini, empati hadir dalam format yang seragam dan instan. Setiap emosi sedih, senang, marah dapat direspons hanya dengan sebuah emoji; tanggapan atas terjadinya suatu tragedi dapat dijawab hanya dengan ketikan “turut berduka,” yang kemudian diakhiri dengan lanjut nge-scroll layar ponsel. Empati menjadi begitu cepat, ringan, dan nggak menuntut keterlibatan lebih jauh.
Akibatnya, bentuk kepedulian sering ditutup dengan sekadar pemberian reaksi. Nggak ada ruang cukup untuk memahami konteks, memastikan validitas, apalagi memutuskan untuk bertindak. Media sosial membuat empati mudah diakses, tetapi juga mudah dilupakan.
Dalam buku berjudul “Science of Evil”, Simon Baron-Cohen menuliskan bahwa emoji-emoji di ponsel nggak akan pernah memungkinkan antarmanusia untuk terhubung secara emosional. Bahkan ironisnya, pemberian respons empati itu malah terasa seperti apatis.
Refleksi Akhir
Empati hari ini lebih sering hadir sebagai respons sekilas, bukannya bertujuan untuk mengembangkan relasi–seperti yang orang-orang zaman dulu cari. Empati kala ini hanyalah berbentuk perasaan sesaat, nggak menyediakan keterlibatan yang berkelanjutan.
Jadi, kalau Pagaria mau memperbaiki sistem ini, tantangan terbesarnya bukan di bagaimana cara untuk mengajarkan kembali manusia untuk berempati, melainkan mengembalikan empati kepada fungsi awalnya: hadir, memahami, dan bertindak.
More than ever, we must continue to bring real democracy to life: where we see each other, where we argue together, where we build together and where quite simply, we live together. —Anne Hidalgo—
Sumber :
(1) Mangione, S. (2024). The Empathy Gap. The American Journal of Medicine, 137(3), 290-291.
https://www.amjmed.com/action/showPdf?pii=S0002-9343%2823%2900763-5
(2) Karakuttikaran, C., & Kolachina, A. (2024). “Me, An Empath?”: Value Priorities and Trait Empathy Among Millennials and Generation Z. International Journal of Indian Psychȯlogy, 12(1).
Penulis : Ni Luh Nyoman Vitari Amritaning Ati