14 Des 2025

Jebakan “Dark Productivity” : Gen Z Dan Sisi Gelap Hustle Culture

Create by : @Tim Content Writer PagarRaya’13

 

Halo Pagaria!

Coba cek screen time kamu hari ini, sudah berapa banyak konten "A Day in My Life" versi produktif yang lewat di beranda? Bangun jam 5 pagi, olahraga, journaling, lalu lanjut kerja atau kuliah sampai malam tanpa jeda.

FYI nih, Pagaria, Itulah wajah hustle culture yang sering mampir di layar kita. Sebuah budaya yang mendewakan kerja keras tanpa henti dan menganggap istirahat adalah tanda kegagalan. Hustle culture membuat kamu merasa bersalah kalau sehari saja tidak melakukan hal yang “bermanfaat” atau produktif. Padahal, di balik estetikanya video-video itu, ada tekanan besar yang diam-diam mengintai kesehatan mental kita. Di era digital ini, standar sukses sering kali dipatok dari seberapa sibuk seseorang, bukan seberapa bahagia mereka. Perangkat yang selalu di tangan mempermudah kita membandingkan hidup dengan pencapaian orang lain, bahkan lima menit setelah bangun tidur. Secepat itu rasa cemas bisa datang, lho!

Lantas, gimana ya dampaknya bagi Gen Z yang tumbuh di tengah persaingan digital yang begitu ketat? Kita bahas bareng-bareng yuk, Pagaria!


Benar Nggak Sih, Gen Z Paling Rentan Burnout?

Label “ambisius tapi rapuh” sering kali disematkan pada Gen Z. Kita dianggap terobsesi dengan side hustle dan pencapaian instan, tetapi cepat menyerah saat tekanan datang. Namun, anggapan ini mengabaikan fakta bahwa Gen Z tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi dan biaya hidup yang terus melambung. Memiliki pekerjaan sampingan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan cara untuk bertahan hidup di masa depan. Masalahnya, tuntutan untuk selalu "on" secara digital membuat batasan antara waktu pribadi dan waktu kerja menjadi kabur. Menurut data, sekitar 68% hingga 78% Gen Z melaporkan merasa burnout karena tekanan untuk terus produktif. Meskipun secara statistik angka ini sangat tinggi, Gen Z jugalah generasi pertama yang berani menyuarakan pentingnya work-life balance sebagai hal yang nggak bisa dinegosiasikan.


Kala Media Sosial Menjadi "Etalase" Produktivitas

Media sosial telah bergeser fungsi dari alat komunikasi menjadi panggung untuk memamerkan kesibukan. Di situlah kita terjebak dalam lingkaran dark productivity menonton orang lain produktif membuat kita merasa sedang produktif juga, padahal sebenarnya hanya sedang scrolling. Eksistensi diri diukur dari seberapa banyak tugas yang berhasil dicentang dalam sehari. Dampaknya, kita sering mengabaikan sinyal tubuh yang butuh istirahat demi validasi digital berupa likes atau komentar kagum. Ironisnya, semakin kita mengejar standar sukses orang lain, semakin kita kehilangan koneksi dengan diri sendiri.


Kesimpulan :

Jadi, Pagaria, punya ambisi itu bagus, tapi jangan sampai membakar habis diri sendiri. Kesuksesan di era Gen Z seharusnya tidak lagi diukur dari seberapa lelah kita bekerja, melainkan seberapa berkualitas hidup yang kita jalani. Sekarang mulai muncul tren Slow Living atau Soft Life sebagai bentuk perlawanan terhadap hustle culture. Tantangan terbesarnya bukan bagaimana caranya bekerja lebih keras, melainkan bagaimana cara untuk berani berhenti sejenak, mengambil napas, dan menyadari bahwa beristirahat adalah bagian dari produktivitas itu sendiri.


Slowing down isn’t falling behind, it’s recalibrating your success meter Cosmopolitan India

Sumber :

(1) Intuit Blog. (2025). The Side Hustle Generation: Gen Z and Millennials Redefine Financial Success.

(2) United Way NCA. (2024). The Gen Z Activism Survey.

(3) Siaran Berita. (2025). Gen Z Terjebak Hustle Culture? Kenapa Sense Of Urgency Bikin Kita Burnout!

(4) Cosmopolitan India. (2025). Why Gen Z is swapping the hustle culture for slow mornings instead


Penulis : Septian Hadi


#HustleCultureAwareness 
#GenZAwareness 
#DyByDay
#DivisiContentWriterBatch13
#PemudaGatraAryaguna
#PagarRayaBatch'13
#PagarRaya 
#Pagaria

Add Comments


EmoticonEmoticon